“Kau serius? Tak takut
kecewa lagi?”. Soal Zain seolah ragu-ragu dengan temannya.
“Apa erti harapan
kalau hanya ada kecewa.” Ucap Mikail sambil memandang langit. Kekuatan dari
sana mungkin. Dari yang menciptakan langit.
“You’ve been strong
all this while. Keep going. I got your back.”
Mikail senyum.
“Tapi….kalau kau jatuh
lagi, Dia ada… untuk sambut. Just know that you are not alone, tau.” Sambung Zain dengan pandangan ditalar pada
langit yang sama.
Mata seperti berpasir. “I
know.”
****
“Are you okay?”
“No, I’m not.”
“Need a shoulder?”
“No, I have mine.”
Senyum pahit.
“Let’s go somewhere
then. Your favourite place, perhaps?” Ujar Zain seolah ingin memujuk.
“I need to go
somewhere else. Sorry.”
****
Dibuka paip disapu lembut air jernih ke muka. Air bersih
lagi membersihkan. Seolah terasa luruh masalah-masalah dunia. Argh, indah.
“Allahu Akbar.”
Dan dia tenggelam di atas tikar sejadahnya. His #favplace
111114

0 comments:
Post a Comment